SJBNEWS.CO.ID - Opini Oleh Andiopenta - Hari bersejarah itu bagi saudara kami, sahabat kami, kolega kami, di Fakultas Keguruan dan llmu Pendidikan Universitas Jambi terlewatkan begitu saja.
Engkau tidak hadir dan tidak ikut serta berdiri bersama kami, tidak ikut serta menunjukkan penampilanmu memnyampaikan orasi ilmiah saat itu.
Engkau sebulan sebelum hari pengukuhan itu telah berangkat menuju keabadian bersama Sang Khalik Yang lebih menyayangimu dan mencintaimu.
Sepertinya la lebih memerlukanmu di Sana, di alam keabadian yang sesungguhnya. Damailah engkau di sana wahai sahabat kami; PROF. DR. DRS.HARIZON, M.SI.

Sosok dari sahabat kami ini, adalah seorang yang baik, penuh dedikasi, humoris, dan dalam tutur kata serta tindak tutur, tidak pernah membuat lawan tutur rugi apalagi rugi serugi ruginya.
Tuturanmu selalu membuat lawan tuturmu beruntung seberuntung nya. Sepertinya engkau menguasai teori linguistik terapan ilmu pragmatik, yakni teori maksim kesantunan dan maksim kerja sama dalam teori tindak tutur.
Hal itulah sahabat kami, Prof. Dr. Drs. Harizon, M.Si. yang tidak dapat kami lupakan. Kesedihan keluargamu yang engkau tinggalkan, sesungguhnya kami juga turut merasakan itu. Tetapi kami sebagai sahabatmu yang engkau tinggalkan, terhibur adanya karena sikap dan tutur sapamu yang bersahaja.
Tetapi di balik itu, jika mengingat semua kebaikanmu itu, terus terang kami tidak sanggup,sahabat,air mata ini juga turut menetes disaat rektor kita memberikan sambutan dan menyampaikan tanda pengukuhuanmu sebagai guru besar tetap di Universitas Jambi.
Saya teringat bagaimana saya mengeluh kepadamu saat kita menyusun bahan pengajuan guru besar.
Saya saat itu, terbentur dalam hal syarat tambahan. Saya hampir menangis bercerita kepadamu, saya hampir putus asa berkata kata kepadamu;“Sepertinya saya tidak dapat meneruskan bahan-bahan pengajuan GB ini pak Harizon, karena saya tidak punya bahan sebagai syarat tambahan”.
Lalu, engkau dengan bijak berkata, coba apa yang pernah Lae kerjakan dari kategori syarat tambahan itu, walau Lae tidak pernah menguji di Program Studi S3, walau Lae tidak pernah menjadi reviewer jurnal internasional bereputasi, lalu, lae kan pernah mendapatkan hibah penelitian DCRG Pascasarjana dari Dikti Kemndikbud, kalau tidak salah Lae dan Samsurijal saja yang mendapatkan saat itu?, Lae jangan putus asa, itulah masukkan sebagai syarat tambahan."
Inilah kata-kata dorongan motivasi semangat buatku saat itu, sehingga saya kembali bersemangat menyusun bahan usulan GB.
Sapaan mu membuat ku bersemangat, engkau menyapaku bukan lah sebutan Bapak, atau abang atau apalah yang lebih pantas sesungguhnya.
Tetapi engkau menyapaku Lae, sesuai sapaan kami sebagai orang orang yang berbudaya Batak. Semua kenangan perjuangan mengusulkan jabatan fungsional guru besar itu menjadi kenangan yang tidak dapat saya lupakan.
Engkau selalu memberikan masukan dan jalan keluar di saat saat saya terbentur dan mengeluh. Tetapi, di balik keluhan dan curhatan hati saya yang terdalam itu, engkau sebagai sahabat tidak pernah mematahkan semangat saya seperti beberapa orang di luar sana yang kurang bijak atas kelouhan saya.
Tetapi kesabaranmu sebagai sahab terbukjti adanya, memang engkau adalah orang baik. Begitu saya terbentur lagi dengan sistem digital, terus terang tentu engkau yang lebih paham dibanding saya, engkau pun juga turut membantunya.
Setelah segala sesuatunya tersusun, dan bahan bahan sudah samapi di kementerian pendidikan tinggi di Jakarta sana,dengan hati yang penuh gundah gulana, kita menunggu hasil reviewer dari para asesor dan akhirnya keluarlah pengumuman tahap pertama, dan dinyatakan dengan kesimpulan belum dapat direkomendasikan.
Saya pun kembali mengeluh dan curhat kepadamu. Engkau tetap memberikan dorongan positif; “Mari kita perbaiki sesuai permintaan para asesor”. Dengan lembut engkau menuturkan kata kata itu kepadaku.
Pada bulan Oktober 2025, kembali keluar pengumuman perbikan ususal berikutnya, dan dinyatakan usulanmu direkomendasikan, dan sementara saya belum.
Saat itu,saya sesungguhnya mau menangis, tetapi di hadapan kita ada mahasiswamu yang sedang engkau bimbing.
Dengan rasa sedih dan dada ini rasa meledak, kutahan tangisku, sembari mendengar kata kata semangat dari mu, "itu hanya menunggu hari nya saja lae, mungkin tidak sekarang hari yang baik untukmu lae, tetapi percayalah, besok pasti”".
Mendengarmu, saya sedikit terhibur, dengan suara yang sedikit terpapah, kujawab, iyalah pak Horizon, akan saya perbaiki lagi usulanku. Dengan tegas, engkau mengatakan; “Ya lae, harus itu, perbaikilah segera”.
Lalu saya berlalu meninggalkanmu bersama mahasiswa bimbingan, engkau melanjutkan bimbingan itu, dan saya pun berlalu ke rungan saya dengan sedikit duka, mengingat usulanku belum direkomendasikan.
Itulah hari hari terakhir bertemu denganmu, saya kurang informasi bahwa penyakit yang engkau derita semakin serius. Saya pun sedikit agak mundur kendor semangat, mengupayakan usulanku.
Saya selesai menunaikan tugas tugas mengajar, langsung juga pulang dari kampus, tanpa melintas lagi dari depan jurusan MIPA di mana kita sering nongkrong bertemu bergurau denganmu.
Hingga hari hari terakhirmu, kita tidak pernah lagi bertemu. Mendengar kepergianmu pada bulan Januari 2026, saya sungguh merenung dan hanya dapat berdoa agar engkau diampuni segala dosa dan dapat diterima disiNya. Hanya itulah yang dapat saya lakukan.
Terima kasih sahabatku, perjuanganmu tidak sia-sia, engkau tetap hidup terutama di hati kami para sahabatmu, terlebihlebih di hati para mahasiswa bimbinganmu.
Engkau tetap hidup di hati kami, di Program Studi Pendidikan Kimia,Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi, tetap terukir namamu; PROF. DR. DRS.HARIZON,M.SI.
Engkau tentu tersenyum dari Sana melihat para mahasiswamu telah berhasil, dan poara kami sahabatmu yang tentunya akan meneruskan perjuanganmu sebagaisesama guru besar, walau tugas tugas itu belum sempat engkau tunaikan dalam jabatan sebagai guru besar. Tetapi sebelumnya, engkau telah mengabdi cukup lama di Universitas Jambi, Damailah Engkau di Sana sahabatku. (Andiopenta)